12.7.13

Asma Kambuh Saat Malam Tapi Lemas Setelah Minum Obat, Mengapa?

Jakarta – Selamat siang Dokter. Saya Hanna. Umur saya 20 tahun. Saat ini saya mengidap penyakit asma. Akhir-akhir ini asma saya sering kambuh. Jika pagi hari sampai sore asma saya tidak kambuh tetapi jika malam hari asma saya selalu kambuh dan menyebabkan saya sulit tidur.

Saat ini saya mengonsumsi obat asma ‘teosal’. Saya meminumnya hanya malam hari menjelang saya tidur. Tetapi ketika saya meminum obat terus badan saya terasa lemas dan gemetar. Dokter apakah obat yang saya minum mempunyai efek samping yang besar terhadap tubuh saya? Jika memungkinkan obat asma apa saja yang harus saya minum selain teosal? Terimakasih.


Hanna (Wanita lajang, 20 tahun)
hannaXXXXX@ymail.com
Tinggi badan 166 cm, berat badan 60 kg


Jawaban


Dear Hanna, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.


Sebelum menuju pembahasan tentang obat-obatan anti-asma, maka ada baiknya kita mengetahui apakah asma itu. Asma adalah penyakit radang (inflammatory disease) saluran pernafasan yang memiliki karakteristik adanya episode bronkokonstriksi akut yang menyebabkan memendeknya nafas (terengah-engah), batuk, dada merasa terikat/sesak, mengi (wheezing), dan pola pernafasan yang cepat.


Di Amerika Serikat, hampir 20 juta individu yang didiagnosis asma dan sekitar separuhnya adalah anak-anak. Biaya tahunan akibat asma yang harus ditanggung oleh sistem healthcare di USA pada tahun 1990 diperkirakan U$ 6,2 miyar. Di tahun 2000, angka ini menjadi dua kali lipat.


Salah satu obat asma yang dijual di apotek adalah teosal. Teosal sebenarnya tergolong obat keras karena memiliki tanda khusus pada kemasan dengan etiket huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Jadi, memang tidak boleh sembarangan dikonsumsi.


Kandungannya adalah salbutamol dan theophylline anhydrate. Theophylline adalah salah satu contoh obat golongan methylxanthines. Gunanya untuk melebarkan bronkus atau cabang tenggorok (bronkodilator) pada penderita asma bronkial dan bronkitis kronis.


Bila dikonsumsi berlebihan, teosal memang dapat menyebabkan otot-otot skelet tremor (gemetar, bergetar), palpitasi (berkeringat dingin), takikardi (denyut/detak jantung menjadi lebih cepat), mual, muntah, dan sakit kepala. Pada anak-anak, teosal berpotensi menyebabkan hematemesis (muntah darah), merangsang susunan saraf pusat, demam, dan diaforesis (keluar keringat yang berlebihan).


Dengan efek samping yang relatif “menakutkan”, maka dokter akan berhati-hati bila meresepkan teosal, terutama pada:
1. wanita yang sedang hamil dan menyusui,
2. penderita penyakit/gangguan jantung,
3. penderita penyakit paru-paru kronis (menahun)
4. penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) yang berat,
5. penderita penyakit/gangguan hati,
6. penderita epilepsi,
7. anak-anak, terutama yang berusia kurang dari 6 tahun,
8.penderita pria lanjut usia, atau berusia lebih dari atas 55 tahun


Secara umum, tujuan terapi penderita asma adalah:
1. mencegah gejala-gejala yang ada menjadi kronis (menahun), menyusahkan, dan mengganggu.
2. mempertahankan fungsi paru-paru yang normal.
3. mampu menjalankan aktivitas seperti biasa, seperti: berolahraga, melakukan aktivitas fisik, bekerja, atau bersekolah.
4. memenuhi harapan penderita dan keluarga dengan pelayanan yang berkualitas.
5. mencegah kambuhnya atau berulangnya (serangan) asma; pada anak-anak mencegah berkurangnya pertumbuhan paru-paru.
6. menyediakan farmakoterapi yang optimal dengan efek samping yang minimal (bila perlu tidak ada efek samping)


Beberapa pilihan obat asma lainnya yang biasa direkomendasikan oleh dokter adalah:
1. Golongan agonis adrenergik beta 2, misalnya:
a. pirbuterol
b. terbutalin
c. albuterol


Ketiga obat di atas bekerja dengan cepat, yaitu 5-30 menit, mampu meredakan asma di dalam jangka waktu 4-6 jam.


Efek samping obat-obat golongan ini adalah takikardi (denyut jantung bertambah cepat), hiperglikemia (kadar gula/glukosa di dalam darah meningkat), hipokalemia (kadar kalium di dalam darah menurun), hipomagnesemia (magnesium di dalam darah menurun).


Sedangkan yang memiliki efek jangka panjang adalah
d. salmeterol
e. formoterol


Keduanya memiliki aksi jangka panjang (long duration of action), mampu melebarkan bronkus setidaknya dalam waktu 12 jam. Keduanya memiliki onset aksi yang lambat dan tidak dapat digunakan untuk meredakan serangan asma akut dalam waktu singkat. Efek sampingnya sama dengan obat golongan agonis adrenergik beta 2 yang berefek jangka pendek.


2. Golongan kortikosteroid, misalnya: beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, methylprednisone, prednisolone, prednisone, triamcinolone.


Kortikosteroid yang dihirup (inhaled corticosteroids, ICS) adalah obat-obat pilihan pertama untuk penderita asma persisten (menetap) derajat apapun. Asma persisten yang berat memerlukan penambahan terapi glukokortikoid oral jangka pendek. Tak ada obat yang seefektif ICS di dalam pengendalian asma jangka panjang pada anak-anak maupun dewasa. Bila dipakai dan diresepkan dokter secara benar dan tepat, maka terapi ICS dapat mengurangi atau menghilangkan keperluan akan glukokortikosteroid oral pada penderita dengan asma berat. Agar efektif di dalam pengendalian inflamasi (peradangan), glukokortikosteroid haruslah diminum secara berkesinambungan, sesuai rekomendasi dokter. Penderita asma berat yang memburuk (exacerbation) atau disebut juga dengan istilah status asmatikus memerlukan pemberian metilprednisolon intravena atau prednison oral.


Efek samping kortikosteroid adalah batuk, jamur di mulut (oral candidiasis). Efek sistemik yang meliputi: gangguan pertumbuhan (growth suppression), penekanan adrenal, keropos tulang (osteoporosis).


3. Kromolin, nedocromil
Kromolin dan nedocromil adalah agen pencegah antiradang yang efektif (effective prophylactic anti-inflammatory agents). Namun tidak bermanfaat pada kasus serangan asma akut, karena bukan direct bronchodilators (melebarkan bronkus secara langsung).


Keduanya dapat menghambat inisiasi (dimulainya) reaksi asmatik yang tertunda. Untuk mengatasi asma, kromolin diresepkan dokter secara inhalasi (dihirup) atau diberikan dalam bentuk microfine powder, atau sebagai aerosolized solution.


Efek samping yang mungkin timbul adalah batuk, sensasi kering, rasa tidak nyaman, dermatitis, dan myositis.


4. Ipratropium bromide
Ipratropium adalah salah satu contoh obat dari golongan antagonis muscarinic. Ipratropium adalah bronkodilator yang dapat merelaksasikan otot-otot di sekitar saluran pernafasan sehingga mampu bernafas dengan lega. Onsetnya lambat. Ipratropium tidak bekerja secepat terapi quick-relief lainnya. Ipratropium secara umum tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mengatasi serangan akut, namun bila memang diresepkan oleh dokter, dapat digunakan bersamaan dengan albuterol.


Beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain: sakit kepala, vertigo, mual, muntah, mulut terasa kering, sulit buang air besar (constipation), diare (mencret), batuk, iritasi tenggorokan, dada tiba-tiba sesak, gatal, kulit kemerahan (skin rash), denyut jantung yang cepat dan tidak teratur (palpitation), irama/ritme jantung yang abnormal (misalnya: atrial fibrillation), problematika mata (nyeri mata, tekanan bola mata meningkat, pupil melebar), sulit berkemih (kencing), reaksi alergi serius (misalnya: lidah, wajah, bibir, dan mulut membengkak), anaphylaxis (reaksi alergi yang sangat berat). Jika terjadi semua ini, stop obat dan segeralah hubungi dokter terdekat.


5. Antagonis Leukotriene, misalnya: montelukast, zafirlukast, zileuton.
Ketiga obat ini dapat digunakan untuk pencegahan (prophylaxis) asma namun tidak efektif pada situasi dimana diperlukan pelebaran bronkus yang segera (immediate bronchodilation).


Efek samping yang berat yang dapat terjadi adalah: peningkatan enzim/serum hati, eosinophilic vasculitis (sindrom Churg-Strauss), sakit kepala, dispepsia (gangguan pencernaan).


Baik zafirlukast maupun zileuton adalah inhibitor (penghambat) cytochrome P450. Keduanya dapat meningkatkan kadar serum warfarin.


6. Omalizumab
Omalizumab adalah salah satu contoh dari monoclonal antibodies. Omalizumab digunakan untuk terapi asma alergi menetap yang berat pada anak-anak berusia minimal 6 tahun dan penderita dewasa. Omalizumab adalah antibodi humanized yang digunakan untuk mengurangi sensitivitas terhadap alergen inhaled, terutama di dalam pengendalian asma alergi sedang hingga berat yang tidak bereaksi dengan terapi konvensional atau kortikosteroid dosis tinggi.


Sebagai suatu recombinant DNA-derived humanized IgG1k monoclonal antibody, omalizumab secara selektif berikatan dengan free human immunoglobulin E (IgE) di dalam darah dan cairan interstitial serta membrane-bound form of IgE (mIgE) di permukaan dari mIgE-expressing B lymphocytes. Singkatnya, adalah omalizumab adalah anti-immunoglobulin E antibody.


Efek samping utama omalizumab adalah anaphylaxis (reaksi alergi sistemik yang mengancam kehidupan), dengan rerata kejadian 1 – 2 dari 1000 penderita. Karena harga obat ini relatif mahal, maka jarang sekali direkomendasikan dokter sebagai terapi utama (first-line therapy).


Yuji Oba dan Gary A Salzman (2004) menyatakan bahwa dari pharmacoeconomic standpoint, omalizumab efektif digunakan pada penderita asma alergi yang gejala-gejalanya tak terkendali meskipun dengan upaya terapi yang maksimal. Dapat menghemat biaya bila diberikan untuk penderita tidak merokok (nonsmoking patients) yang telah mondok di rumah sakit selama 5 kali atau lebih, atau selama 20 hari/lebih lama, per tahunnya.


Brusselle G, dkk (2009) berkesimpulan menurut studi PERSIST, omalizumab menunjukkan perbaikan kualitas hidup yang baik, penurunan kekambuhan/pemburukan, physician-rated effectiveness yang lebih baik dibandingkan studi efikasi terdahulu. Pada kondisi nyata (real-life), omalizumab efektif sebagai terapi add-on pada penderita persistent severe allergic asthma.


Maselli DJ, Singh H, Diaz J, Peters JI (2013) menyatakan bahwa omalizumab efektif mengurangi kunjungan di bagian UGD / IGD (emergency department), mengontrol gejala-gejala asma, dan mengurangi kebutuhan akan kortikosteroid sistemik pada penderita dengan kadar IgE lebih dari 700 IU/mL dibandingkan dengan penderita dengan kadar IgE 30 – 700 IU/mL.


7. Theophylline
Theophylline adalah bronkodilator yang meredakan gangguan pernafasan pada kasus asma kronis dan menurunkan gejala-gejalanya. Theophylline diserap dengan baik oleh saluran pencernaan (gastrointestinal tract). Dulunya theophylline pernah digunakan sebagai terapi utama asma, namun dikarenakan profil efek samping yang tinggi, cakupan terapeutik yang sempit, dan berpotensi terjadinya interaksi obat, maka kini tak lagi sebagai pilihan utama untuk terapi penderita asma.


Overdosis theophylline dapat menyebabkan terjadinya kejang (seizures) dan aritmia (gangguan denyut/irama jantung atau ketidakteraturan irama jantung) yang berpotensi fatal (kematian).


Di dalam manajemen asma, yang perlu diperhatikan adalah empat komponen berikut ini:


1. Pengukuran assessment dan monitoring, yang didapatkan dokter melalui tes-tes objektif, pemeriksaan fisik, riwayat dan laporan penderita, untuk menegakkan dan menilai karakteristik dan tingkat keparahan dari asma dan untuk memonitor apakah pengendalian asma tercapai.
2. Edukasi untuk partnership di dalam perawatan asma (asthma care).
3. Pengendalian faktor-faktor lingkungan dan beragam kondisi penyerta yang dapat mempengaruhi munculnya asma.
4. Terapi farmakologis (obat).


Jadi jelaslah bahwa obat bukanlah satu-satunya cara efektif untuk mengendalikan dan mengatasi asma.


Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.


Salam sehat dan sukses selalu!


Dokter Dito Anurogo
Konsultan detik.com, dokter online, pemerhati neuroscience, hematopsikiatri, medicopomology, neurofarmacogenomik, penulis 12 buku. Saat ini mengabdi dan berkarya di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com



Asma Kambuh Saat Malam Tapi Lemas Setelah Minum Obat, Mengapa?
– Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini

source on:m.detik.com



10.7.13

Bagaimana Cara Mudah Obati Amandel?

Jakarta – Amandel saya membengkak sejak SMP, apa pengaruh pembengkakkan amandel pada kondisi tubuh? Apakah harus diangkat? Apa efek setelah pengangkatan amandel? Apa cara simpel untuk mengurangi pembengkakan amandel?

Udin (Pria lajang, 18 tahun)
dontbeXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 166 cm, berat badan 55 kg


Jawaban


Dear Udin yang cerdas. Pertanyaanmu amat bermutu dan mewakili banyak penderita amandel lainnya. Baiklah kita langsung saja membahas tentang amandel.


Radang amandel (tonsilitis) adalah suatu keadaan saat kelenjar limfe yang ada di tenggorokan membengkak atau meradang. Kelenjar limfe ini ibarat prajurit. Musuhnya banyak sekali, misalnya: bakteri, virus, jamur. Riset membuktikan kalau bakteri yang terbanyak adalah dari genus (golongan) streptokokus, gonokokus, diplokokus, pneumokokus, dan Haemophilus influenzae. Serangan bakteri Haemophilus influenzae ini sungguh dahsyat dan berat, karena dapat mengakibatkan amandel bernanah (tonsilitis akut supuratif).


Bakteri ini bisa dari golongan gram-positive aerobes serta gram-negative anaerobes. Beragam kelompok bakteri ini dapat berinteraksi secara sinergis, sehingga meningkatkan dan memperpanjang virulensi (masa berlangsungnya infeksi). Tampaknya peran bakteri anerob berperan signifikan di dalam menjadi penyebab kambuhnya tonsilitis.


Untuk virus, terbanyak berasal dari golongan parainfluenza dan adenovirus. Sedangkan jamur, jenis kandida dan aktinomises paling sering menyebabkan amendel meradang. Keberanekaragaman inilah yang menyebabkan tonsilitis berpeluang untuk menjadi menahun (chronic) dan kambuh/berulang (recurrent).


Potret Klinis


Tonsilitis umumnya menyerang anak-anak berusia 5-10 tahun, namun bisa juga menyerang orang dewasa. Awalnya penderita mengeluh kerongkongannya terasa kering. Lalu perlahan menjadi nyeri (nyeri di kerongkongan dan nyeri untuk menelan).


Pada kasus amandel yang telah menahun (tonsilitis kronis), maka selain nyeri saat menelan, nyeri di kerongkongan, juga terkadang merasa ada benda asing di tenggorokan, nafas (mulut) berbau (halitosis). Dapat disertai lemah, selera makan turun, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan menjumpai pembesaran tonsil (amandel), detritus positif pada penekanan, arkus tonsillaris anterior-posterior berwarna merah, criple melebar. Kelenjar submandibula (dapat pula) membesar/membengkak. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan biasanya adalah darah rutin.


Diagnosis Banding


Akibat perlawanan yang hebat dari prajurit tadi, maka beberapa bakteri dapat mati. Nah, bakteri yang mati, epitel amandel yang lepas, dan sel darah putih (leukosit) jenis polimorfonuklear ini membentuk disebut kotoran putih atau bercak kuning yang di dalam medis disebut detritus.


Keberadaan pseudomembran (selaput semu) akibat detritus ini menyebabkan ada penyakit lain yang mirip tonsilitis akut, seperti: tonsilitis difteri, angina Plaut Vincent, angina agranulositosis, dan demam skarlet. Tugas dokterlah di dalam menyingkirkan diagnosis banding ini, sebelum akhirnya menegakkan diagnosis.


Solusi


Sebenarnya amandel karena virus berpotensi untuk sembuh sendiri. Namun bila virus telah menyebar melalui pembuluh darah (viremia) dan daya tahan tubuh sedang lemah, maka sangat berpotensi menjadi lebih parah, seperti: amandel bengkak dan bertambah besar (hiperplasi tonsil), terjadi pernanahan dan luka di tenggorokan (ulserasi dan abses parafaring). Hal ini berpotensi mempengaruhi saraf IX dan X, sehingga muncullah nyeri telan dan nyeri tekan di kerongkongan serta nyeri di telinga (otalgia). Akibat lain bisa menurunkan selera makan, menurunnya kadar gula di dalam aliran darah (hipoglikemia), tubuh menjadi lemas dan kurang tenaga. Penyebaran infeksi virus ini juga berpotensi menyerang hidung. Akibatnya, mukosa (selaput lendir) hidung menjadi radang, lendir bertambah, sehingga hidung menjadi tersumbat. Komplikasi lain dapat menjalar ke jantung.


Amandel karena bakteri dan jamur dapat diatasi dengan pemberian antimicrobial atau antibiotik yang sesuai. Lozenges (tablet hisap) dan antiseptik hanya meredakan dan bukan terapi utama.


Jadi, solusinya dibagi menjadi dua macam, yaitu secara konservatif dan operatif. Konservatif yaitu dengan menghilangkan gejala dan pemberian obat (analgetik, antipiretik, obat kumur, antibiotik spektrum luas sesuai indikasi).


Sebelum memberikan obat antibiotik, dokter akan melakukan sistim penilaian (scoring) McIsaac. Pada kasus tonsilofaringitis bakterialis, maka pilihan antibiotik yang dapat diberikan antara lain: penisilin (10 hari). Bila dijumpai alergi terhadap penisilin, maka dapat diberikan amoksisilin (6 hari), sefalosporin (4-5 hari), klaritromisin (5 hari). Yang perlu diingat dan diperhatikan adalah antibiotik tidak perlu diberikan pada anak dengan tonsilofaringitis bila tidak didapatkan kuman atau tidak sesuai dengan kriteria klinik untuk infeksi bakteri.


Pada anak-anak, terapi kasus amandel atau radang tenggorokan akibat bakteri streptokokus (streptococcal tonsillitis/pharyngitis) dengan antibiotik diikuti rekolonisasi dengan obat golongan alpha-streptococci dapat menghindari kekambuhan.


Strategi konservatif ini perlu disertai dengan istirahat, diet makanan lunak, menghindari semua yang digoreng serta sebisa mungkin tidak pedas. Adapun tindakan operatif yaitu dengan pengangkatan amandel (tonsilektomi).


Sebelum melakukan tonsilektomi (operasi amandel), dokter akan mempertimbangkan banyak faktor, seperti: urgensi, tingkat keparahan, usia, biaya, komplikasi, dan yang tak kalah penting adalah beragam faktor penyulit yang berpotensi menghambat atau bahkan “mengganggu operasi”. Faktor penyulit ini misalnya: karena berbagai macam penyakit, seperti: infeksi leher bagian dalam, radang telinga bagian tengah (otitis media), radang rongga hidung (sinusitis paranasal), bahkan perluasan penyakit hingga ke organ-organ ginjal, jantung, dan persendian. Penyulit lainnya adalah perdarahan dan adanya pnemonia aspirasi.


Bila operasi sukses tanpa komplikasi, maka diperkirakan tiga hari boleh pulang. Masa pemulihan penderita maksimum adalah sepuluh hari. Mayoritas kasus amandel sembuh total. Namun bila ada keganasan (kanker), maka perlu dilakukan biopsi (pemeriksaan patologi anatomi) untuk menentukan ganas atau jinak. Dengan penatalaksanaan yang komprehensif dan paripurna, maka amandel tak lagi membandel.


Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.


Salam sehat dan sukses selalu!


Dokter Dito Anurogo
Konsultan detik.com, dokter online, penulis 12 buku, mengabdi dan berkarya di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia, Surya University, Indonesia.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com


Incoming search terms:

  • celana dalam audi
  • Celana dalamku kejepret

Bagaimana Cara Mudah Obati Amandel?

8.7.13

Bila Sakit Masih Bisa Ditahan, Perlukah Minum Obat atau ke Dokter?

Jakarta – Dokter Dito, saya mau tanya. Kebiasaan saya ketika gejala awal sakit seperti flu atau batuk, saya tidak pernah mau minum obat ataupun ke dokter untuk periksa karena menurut pikiran saya, manusia memiliki kekebalan tubuh sendiri. Jadi selama menurut saya, saya masih bisa tahan dengan sakit itu, saya hanya perbanyak minum air dan tambahannya vitamin untuk memperkuat imun tubuh dan alhamdulillah saya bisa pulih dari sakit, walau memang tidak secepat dengan obat dari dokter.

Nah, menurut Dokter, apakah pemikiran saya benar atau tidak? Mohon pencerahan. Terimakasih atas pencerahan dokter Dito, semoga Dokter Dito sekeluarga sehat, sukses, bahagia, beruntung dan diridhoi Allah selalu dunia-akhirat. Amin 3x.


Haidar (Pria lajang, 26 tahun)
haidarXXXXX@myself.com
Tinggi badan 160 cm, berat badan 60 kg


Jawaban


Terimakasih atas doa dan kepercayaan Mas Haidar kepada kami.


Mari kita langsung menuju ke pembahasan.


Pertanyaan Mas Haidar mengingatkan kami kepada konsep ‘sehat’ menurut World Health Organization (WHO), ‘Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity’.


Dari konsep ini, kita mengetahui bahwa bahwa seseorang dikatakan sehat itu bila memenuhi aspek berikut:


1. Sehat secara jasmani
2. Sehat secara mental
3. Sehat secara sosial-ekonomi (sejahtera dan mandiri)


Namun, seiring perkembangan riset dan teknologi, konsep ini ternyata belum cukup. Masih ada beberapa aspek lagi yang perlu ditambahkan untuk melengkapi konsep ‘sehat’, antara lain:


4. Sehat secara pikiran
5. Sehat secara spiritual
6. Sehat secara budaya
7. Sehat secara politik


Nah, dari tujuh konsep di atas serta berbagai referensi yang telah kami baca, kami menyimpulkan bahwa konsep ‘sehat’ dan ‘kesehatan’ itu secara besar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal.


Mari kita sedikit uraikan sebagai berikut ini:


1. Faktor internal adalah yang ada di dalam diri individu atau manusia itu sendiri. Faktor internal ini meliputi:
a. Pikiranya termasuk juga mindset, paradigma, prasangka, asumsi, opini, fokus, perhatian, dsb. Cara berpikir seseorang terhadap diri dan lingkungannya akan menentukan tingkat ‘kesehatannya’.
b. Perutnya apa yang dimakan, diminum, menentukan kesehatan manusia.
c. Jiwanya yang ini lebih kompleks, sebab dinamika jiwa amat menentukan kesehatan mental dan fisik manusia.
d. Sistem imunitas (kekebalan tubuh) daya tahan tubuh seseorang itu berperan penting bila tubuh dimasuki virus, bakteri, jamur, dkk.


Menurut ahli, faktor internal ini lebih dominan dibandingkan faktor eksternal, di dalam menentukan derajat kesehatan seseorang.


2. Faktor eksternal adalah apa yang berada di luar dan di sekitar manusia itu, misalnya: lingkungan alam, semesta, polusi, cuaca, lingkungan pergaulan, pendidikan, pengaruh politik, ekonomi, budaya, sosial, pertahanan, keamanan, etika, dsb.


Intinya, kita bisa sehat (secara komprehensif, dalam arti luas) bila antara faktor internal dan eksternal itu seimbang dan harmonis.


Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.


dr. Dito Anurogo
Medical doctor at neuroscience department and Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com



Bila Sakit Masih Bisa Ditahan, Perlukah Minum Obat atau ke Dokter?

7.7.13

Badan Kaku dan Kejang-kejang, Tanda Sakit Apa?

Jakarta – Dok saya mau bertanya tentang penyakit ibu saya (tinggi 154 cm, berat 49 kg). Juli lalu, ibu saya melakukan operasi struma dengan tensi dan kondisi jantung yang baik. Namun setelah operasi badan ibu saya jadi kram atau kaku, bahkan mulai Agustus bertambah dengan kejang-kejang. Rontgen dan CT-SCAN tidak dapat mendeteksi penyakitnya.

Pada akhirnya ibu berobat ke pengobatan alternatif. Kemarin saya bertanya ke kiai (memang terkesan konyol Dok) tentang penyakit ibu saya. Beliau mengatakan bahwa sebelum operasi kadar gula ibu saya tinggi. Kemarin saya langsung memeriksakan kadar gulanya dan memang benar kadar gulanya tinggi. Menurut Dokter, sebenarnya apa penyakit ibu saya? Terimakasih.


Wiwin (Perempuan lajang, 22 tahun)
Tinggi badan 155 cm, berat badan 57 kg


Jawaban:
Ibu wiwin,
Berdasarkan pernyataan Anda, kami sarankan orang tua Anda diajak ke dokter spesialis endokrin (dokter yang menangani pasien penyakit gondok, tiroid dan sakit pada leher). Terimakasih.


Jika ada gangguan pada jantung, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dokter kami, dengan membawa hasil medikal checkup (hasil laboratorium, tes pemeriksaan jantung, dsb).


Profesor Xiao Mingdi


Dokter Spesialis Bedah Kardiovaskular di Shanghai Yodak Cardio-Thoracic Hospital. RS Cardio-thoracic Yodak Shanghai terletak di No 218 Jalan Longcao Distrik Xuhui Shanghai. Perwakilan di Jakarta ada di Menara Citicon Lantai 11 Blok Suite E, Jalan S Parman Kav72, Slipi, Jakarta Barat 11410. Tel: 021 – 99808123 dan 021 – 99570666.


Anggota dari Association of Thoracic and Cardiovascular Surgeons of Asia, konsultan ahli dari Departemen Kesehatan RRC, Dewan Pengawas dari China National Science and Technology Progress Award, Wakil Direktur dari China Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Ketua Kehormatan untuk Shanghai Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Standing Committee Member of the China Medical Doctor Association.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com



Badan Kaku dan Kejang-kejang, Tanda Sakit Apa?

Jantung Berdebar, Sakitnya Nyambung ke Kepala Bagian Kiri

Jakarta – Dok, saya wanita umur 21 tahun. Saya punya riwayat sakit jantung sejak umur 12 tahun. Pernah dioperasi pada umur 12 karena kelebihan pembuluh darah di sekitar jantung sehingga makanan tidak mengalir keseluruh tubuh (namanya kalau tidak salah Vistel Coroner).

Setelah operasi saya tidak merasakan masalah pada jantung saya. Tapi akhir-akhir ini kalau saya melakukan aktivitas seperti jalan menanjak, saya merasakan jantung saya berdebar-debar dan sakit. Bahkan sakitnya seperti nyambung ke kepala bagian kiri, jadi berujung ke pusing.


Apa yang terjadi ya, Dok? Terimakasih atas perhatiannya.


Nindita (Wanita lajang 21 tahun)
ndy.XXX@yahoo.com
Tinggi badan155 cm dan berat 52 kg


Jawaban:


Akhir-akhir ini, apakah Ibu Nindita sudah cek ke dokter? Dokter mengatakan apa ya?


Lalu apakah dulunya punya riwayat penyakit jantung bawaan tipe atresia pulmonal? Jika memang benar, kami sarankan untuk memeriksa diri ke dokter spesialis jantung dan lakukan tes pemeriksaan jantung seperti rontgen dada, ekokardiografi dan elektrokardiogram (EKG).


Lalu mengenai riwayat penyakit jantung bawaan, type atresia pulmonal merupakan penyakit jantung bawaan yang paling rumit dari segala jenis penyakit jantung bawaan. Atresia pulmonal secara garis besar terbagi dua yakni atresia pulmonal dengan type defek septum ventrikel dan atresia pulmonal tanpa defek septum ventrikel (atresia pulmonal dengan septum yang utuh).


Mengenai pengobatannya disesuaikan dengan penyebab atresia pulmonal dan kondisi tubuh pasien, seperti gejala yang dirasakan, riwayat penyakit pasien (seperti diabetes, kolesterol, darah tinggi). Jika memang benar, kami sarankan Anda untuk memeriksa diri ke dokter spesialis jantung dan lakukan tes pemeriksaan jantung seperti rontgen dada, ekokardiografi dan elektrokardiogram (EKG).


Anda juga dapat berkonsultasi langsung dengan dokter kami gratis. Tidak dipungut bayaran sepeser pun, dengan membawa hasil pemeriksaan dari dokter sebelumnya. Terimakasih.


Profesor Xiao Mingdi


Dokter Spesialis Bedah Kardiovaskular di Shanghai Yodak Cardio-Thoracic Hospital. RS Cardio-thoracic Yodak Shanghai terletak di No.218 Jalan Longcao Distrik Xuhui Shanghai. Perwakilan di Jakarta ada di Menara Citicon Lantai 11 Blok Suite E, Jalan S Parman Kav72, Slipi, Jakarta Barat 11410. Tel: 021 – 99808123 dan 021 – 99570666.


Anggota dari Association of Thoracic and Cardiovascular Surgeons of Asia, konsultan ahli dari Departemen Kesehatan RRC, Dewan Pengawas dari China National Science and Technology Progress Award, Wakil Direktur dari China Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Ketua Kehormatan untuk Shanghai Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Standing Committee Member of the China Medical Doctor Association.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com



Jantung Berdebar, Sakitnya Nyambung ke Kepala Bagian Kiri

6.7.13

Berat Badan Sudah Ideal, Tapi Pipi Malah Tembem

Jakarta – Saya mengalami kenaikan berat badan sebanyak 4 kg. Sehingga, pipi saya membesar. Yang ingin saya tanyakan:
2. Bagaimana cara mengilangkan lemak di pipi, karena saya merasa tidak percaya diri?
3. Berapa lama waktu yang dibutukan untuk menghilangkannya?
4. Apakah kalau berat badan saya menurun, pipi saya otomatis akan kembali semula? Untuk saat ini berat badan saya 47.

Lala (Wanita lajang, 14 tahun)
fawniaXXXX@yaoo.com
Tinggi badan 163 cm, berat badan 53 kg


Jawaban


Hi Lala,


Penumpukan lemak itu faktor genetik ya tidak bisa kita hindari. Dari sisi nutrisi, cara menghilangkan lemak di bagian yang sulit untuk di-olahragakan adalah dengan menurunkan lemak total dalam tubuh. Namun sepertinya hal ini menurut saya tidak perlu karena:
- Kamu masih dalam masa pertumbuhan, diet (apalagi diet ketat tanpa jelas tujuan medisnya) mempunyai risiko kesehatan jangka panjang seperti anemia dan osteoporosis serta gangguan fertilitas.
- Berat badan kamu toh sudah ideal
- Kamu masih akan tumbuh tinggi lagi


Pesan moral saya:
- Be grateful and be happy dengan keadaan kita, be comfortable with yourself
- Fokus ke hal-hal baik yang terjadi/kamu punyai seperti keluarga, persahabatan, kesehatan dll
- Bentuk fisik tubuh dan angka timbangan adalah hal subyektif (tiap orang berbeda sudut pandang) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai patokan kebahagiaan
- Jangan mengacu/membandingkan dengan model di TV/majalah. Sebagian besar foto yang tampil sudah diedit, di-photoshop agar terlihat lebih cantik, lebih mulus, langsing, tinggi dll
- Jika ada orang yang berusaha mencela fisik orang lain, cuekin atau jika mengganggu sekali bisa ditanya balik: ‘and is this a problem for you?’ (maksudnya, bukan urusan loe gitu loch, kepo amat sich!)


OK? Be happy, be you!


Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets. Follow twitter @Leona_victoria.


Punya pertanyaan seputar kesehatan? Silahkan klik di sini


source on:m.detik.com



Berat Badan Sudah Ideal, Tapi Pipi Malah Tembem